Selasa, 03 Mei 2016

Tantangan Pendidikan Abad 21 , Mungkinkah “kurikulum” dapat menekan agresivitas anak..?


Kank Hari Santoso , Islamic Asean HRD Motivator and  Indonesia Smart Parenting Coach 
Dimasa sekarang ini adalah hal yang sulit untuk membuat anak patuh tanpa syarat, yang sering terjadi  adalah anak  sekarang (terkesan ) lebih banyak membantah dan melawan  sementara orang tua dan guru tidak tahu harus berbuat apa. Meski banyak faktor yang harus diperdebatkan, namun jika menggunakan kacamata filosofi pendidikan, sesungguhnya fungsi orang tua dan guru adalah pendidik yang efektif bagi perkembangan karakter mereka .

 Persoalannya sudahkah orang tua dan guru melakukan pendidikan secara efektif..? , efektif disini ketepatan hasil dari upaya yang telah dilakukan. Artinya seberapa besar upaya yang telah dilakukan  orang tua dan guru menerapkan sesuai dengan prinsip prinsip pendidikan itu, menghasilkan karakter sebagaimana  tujuan  dari pendidikan itu sendiri.    Berikut beberapa perilaku orang tua dan guru dalam menerapkan proses pendidikan kepada anak anak/peserta didik yang berkemunkinan anak tidak patuh bahkan agresif.


1.       Orang tua dan guru tidak memberi teladan, secara sederhana anak sulit memahami arti pembelajaran moral , akhlak dan sikap mental yang baik karena tidak mendapatkan contoh langsung dari orang tua dan gurunya.   Contoh ketika anak mendapatkan kesulitan memahami penjelasan guru atau orang tuanya bukan mendapat petunjuk yang lebih baik secara bertahap. Yang ada ada malah ,  dipojokkan, dianggap tidak mampu bodoh dsb. Jika seperti ini bagaimana anak bisa mendapatkan contoh yang baik dari kebaikan yang diajarkan.

2.       Orang tua dan guru hanya menjalankan tugas dan fungsi nya tanpa melibatkan aspek kasih sayang  sehingga anak anak tidak pernah  mendapatkan pengalaman dan merasakan arti kasih sayang yang sebenarnya. Yang mereka tahu kebutuhannya terpenuhi, nilai akademiknya sesuai KKM dan tugas nya telah dinilai,  tanpa mereka mengerti  mengapa mereka harus mengerjakan tugas tugas tadi karena tidak ada pendampingan dengan kasih sayang , kecuali kasih tugas habis perkara.  

3.       Orang tua dan guru telah menjalankan  tugas dan fungsinya seperti panduan “kurikulum” yang “diyakininya” tanpa mempertimbangkan keunikan dari keberbedaan dan keunggulan setiap anak akibatnya tidak jarang orang tua menemui benturan bilamana terjadi ketidak seusaian antara konsep yang di yakini dengan kondisi anak yang sebebnarnya. Sementara anak sendiri tidak akan pernah mengerti apa maunya konsep atau kurikulum yang diberikan kepadanya apalagi jika membuatnya merasa “terbebani” tanpa mengerti.

Lantas apa yang harus dilakukan ..

Mulai dari harapan dan kecemasan.
Setiap anak memiliki harapan dan kecemasan, orang tua dan guru semestinya dapat berempati terhadap harapan dan kecemasan anak kemudian mengajaknya menemukan solusi dari kebutuhannya tersebut. Anak ingin mewujudkan hobi dan cita citanya anda mendukungnya dengan kasih sayang dan kepedulian serta orang tua dan guru bersedia berdiskusi dalam setiap kesulitan yang dihadapi anak, maka inilah yang disebut “Expected..!”

Mendukung langkah keberhasilannya

Peran tut wuri handayani diwujudkan oleh orang tua dan guru dengan mendampingi anak dalam upaya meraih cita cita nya selama menjalani proses perjungan untuk mencapai cita cita itu. Orang tua dan guru menjadi motivator, coach dan inspirator bagi anak untuk berjuang habis habisan meraih sukses sesuai cita cita yang diinginkan.dengan demikian anak mengatakan orang tua dan guru saya benar benar, “ Amazing ..!”.

Setiap anak akan berhadapan dengan zamannya demikian pula orang tua harus dapat menjadi pendamping dan pembimibing anak dalam menghadapi zamannya itu.. Pendidikan ibarat menanam sebuah pohon sebagaimana di isyaratkan pada QS  Ibrahim : 24
“  Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik yaitu seperti pohon yang baik, akarnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit”
 Walallahualam bisowab


Tidak ada komentar:

Posting Komentar