![]() |
| Kank Hari Santoso , Islamic Asean HRD Motivator and Indonesia Smart Parenting Coach |
Dimasa sekarang ini adalah hal
yang sulit untuk membuat anak patuh tanpa syarat, yang sering terjadi adalah anak sekarang (terkesan ) lebih banyak membantah
dan melawan sementara orang tua dan guru
tidak tahu harus berbuat apa. Meski banyak faktor yang harus diperdebatkan,
namun jika menggunakan kacamata filosofi pendidikan, sesungguhnya fungsi orang
tua dan guru adalah pendidik yang efektif bagi perkembangan karakter mereka .
Persoalannya sudahkah orang tua dan guru
melakukan pendidikan secara efektif..? , efektif disini ketepatan hasil dari
upaya yang telah dilakukan. Artinya seberapa besar upaya yang telah dilakukan orang tua dan guru menerapkan sesuai dengan
prinsip prinsip pendidikan itu, menghasilkan karakter sebagaimana tujuan dari pendidikan itu sendiri. Berikut beberapa perilaku orang tua dan guru
dalam menerapkan proses pendidikan kepada anak anak/peserta didik yang
berkemunkinan anak tidak patuh bahkan agresif.
1. Orang
tua dan guru tidak memberi teladan, secara sederhana anak sulit memahami arti
pembelajaran moral , akhlak dan sikap mental yang baik karena tidak mendapatkan
contoh langsung dari orang tua dan gurunya. Contoh
ketika anak mendapatkan kesulitan memahami penjelasan guru atau orang tuanya
bukan mendapat petunjuk yang lebih baik secara bertahap. Yang ada ada malah , dipojokkan, dianggap tidak mampu bodoh dsb.
Jika seperti ini bagaimana anak bisa mendapatkan contoh yang baik dari kebaikan
yang diajarkan.
2. Orang
tua dan guru hanya menjalankan tugas dan fungsi nya tanpa melibatkan aspek
kasih sayang sehingga anak anak tidak
pernah mendapatkan pengalaman dan merasakan
arti kasih sayang yang sebenarnya. Yang mereka tahu kebutuhannya terpenuhi,
nilai akademiknya sesuai KKM dan tugas nya telah dinilai, tanpa mereka mengerti mengapa mereka harus mengerjakan tugas tugas
tadi karena tidak ada pendampingan dengan kasih sayang , kecuali kasih tugas
habis perkara.
3. Orang
tua dan guru telah menjalankan tugas dan
fungsinya seperti panduan “kurikulum” yang “diyakininya” tanpa mempertimbangkan
keunikan dari keberbedaan dan keunggulan setiap anak akibatnya tidak jarang
orang tua menemui benturan bilamana terjadi ketidak seusaian antara konsep yang
di yakini dengan kondisi anak yang sebebnarnya. Sementara anak sendiri tidak
akan pernah mengerti apa maunya konsep atau kurikulum yang diberikan kepadanya
apalagi jika membuatnya merasa “terbebani” tanpa mengerti.
Lantas apa
yang harus dilakukan ..
Mulai dari
harapan dan kecemasan.
Setiap anak
memiliki harapan dan kecemasan, orang tua dan guru semestinya dapat berempati
terhadap harapan dan kecemasan anak kemudian mengajaknya menemukan solusi dari
kebutuhannya tersebut. Anak ingin mewujudkan hobi dan cita citanya anda
mendukungnya dengan kasih sayang dan kepedulian serta orang tua dan guru
bersedia berdiskusi dalam setiap kesulitan yang dihadapi anak, maka inilah yang
disebut “Expected..!”
Mendukung
langkah keberhasilannya
Peran tut wuri
handayani diwujudkan oleh orang tua dan guru dengan mendampingi anak dalam
upaya meraih cita cita nya selama menjalani proses perjungan untuk mencapai
cita cita itu. Orang tua dan guru menjadi motivator, coach dan inspirator bagi
anak untuk berjuang habis habisan meraih sukses sesuai cita cita yang
diinginkan.dengan demikian anak mengatakan orang tua dan guru saya benar benar,
“ Amazing ..!”.
Setiap anak
akan berhadapan dengan zamannya demikian pula orang tua harus dapat menjadi
pendamping dan pembimibing anak dalam menghadapi zamannya itu.. Pendidikan
ibarat menanam sebuah pohon sebagaimana di isyaratkan pada QS Ibrahim : 24
“ Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah
membuat perumpamaan kalimat yang baik yaitu seperti pohon yang baik, akarnya
kokoh dan cabangnya menjulang ke langit”
Walallahualam bisowab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar