“Kank Hari, jika Pancasila hanya sebatas hafalan akan sulit
menginternal pada kehidupan anak didik , sehingga anak anak makin jauh dari falsafah
Pancasila sebagai way of life warga
negara. Walau sikap mental Pancasila
belum menjadi ukuran kompetensi
kelulusan bagaimana agar peserta didik mengerti arti Pancasila dan menjadi
nilai kehidupan sehari hari ..?”
Menanamkan Pancasila kepada
peserta sejak dini erat kaitannya dengan pembangunan sikap mental positif terhadap
nilai nilai yang terkadung didalam Pancasila. Oleh karena itu mempersiapkan ukuran
keberhasilan sikap mental Pancasila sebagai pembiasaan dan pembentukan karakter
siswa sanagat penting .
Diperlukan seperangkat alat ukur sederhana
yang menjadi pedoman pelaksanaan program pembentukan karakter sikap mental
Pancasila, sebagai berikut :
1. Tentukan
nilai nilai sederhana yang dapat secara kasat mata diamati keberhasilan pelaksanaannya disetiap
individu anak didik. Contoh Pengamalan Sila Ke Satu dengan pembiasaan Sholat Dhuha berjamaah bagi peserta didik muslim. Dapat terukur pada
sikap mental siswa pada pencerminan akhlak mulia dan perilakunya sebagai wujud penerapan
Pengalaman Sila Kedua. Selanjutnya kemampuan anak dalam beradaptasi dan
bersosialisasi dalam tugas kelompok maupun osis dapat menjadi ukuran penerapan
Sila Ketiga, dst.
Mengapa ukuran itu penting..? , dikarenakan sikap
mental adalah sesuatu yang lebih banyak tersembunyi didalam penampilan.
2. Berikan
stimulasi untuk mengasah kepekaan anak dalam bentuk test perilaku atau treatment yang direncanakan, sehingga
respon anak merupakan kepekaannya terhadap situasi dan kondisi suatu keadaan
menjadi ukuran kecenderungan anak memahami dan menjiwai pengamalan Pancasila.
3. Pembelajaran
sikap mental Pancasila bukan sekedar
transfer pengetahuan tentang Pancasila dan butir butir pengamalannya, melainkan
pembentukan sikap mental merupakan hubungan timbal balik atau sebab akibat dari
proses pengamalan Pancasila. Contoh disebabkan guru lebih banyak memberikan
keteladanan pengamalann Pancasila maka akibatnya peserta didik mendapatkan contoh dan pengalaman belajar Pancasila secara
kongkrit .
Dengan demikian proses penanaman
sikap mental Pancasila tidak hanya memasuki ranah/domain kognitif –afektif –psikomotor
dan konatif melainkan menjadi sistem keyakinan kebangsaan pentingnya penerapan
nilai nilai kehidupan bernegara oleh peserta didik sebagai wujud cinta tanah
air.
Semakin belia mereka mendapatkan
pengalaman pembelajaran pembentukan sikap mental Pancasila semakin kuat
tertanam di memori jangka panjang dan
karakter mereka guna mempersiapkan mereka menjadi generasi tangguh di masa
depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar