Sepuluh budaya malu terpampang dengan jelas disebuah baner
dekat bagian informasi layanan publik Rumah Sakit Mata Jawa Timur di kawasan Gayung Sari: “MALU Terlambat masuk kantor, Malu tidak ikut
Apel , MALU Tidak Masuk Kerja Tanpa
Alasan dan MALU MALU yang lain. Untuk menujukkan bahwa SKPD bersangkutan benar
benar komitmen dan menjujung tinggi
profesionalitas dalam melakukan pelayanan pubik.
Sebagai Motivator MSDM Indonesia tentu hal tersebut membuat saya
sangat terharu. Apalagi setelah mendapat pengalaman pelayanan yang menyenangkan
dari rumah sakit tersebut, semuanya
terukur, fairness, akuntable dan
menyenangkan..!.
Saya mencoba melambungkan angan untuk mengkaitkan apa yang
saya lihat , saya rasakan dan saya alami dengan
mutu layanan publik berdasarkan
implementasi kualitas layanan. Dimana professional value sebagai prinsip layanan dapat menciptakan
panduan implementasi tindakan nyata tugas pelayanan secara bermutu dari seluruh individu di
dalam sebuah tim dari SKPD bersangkutan.
Tentu hal ini terobosan yang patut
ditiru oleh SKPD lain dalam tugas tugas pelayanan publik.
Membangkitkan komitmen setiap individu pegawai untuk
menjalankan prinsip prinsip professional
value dalam SKPD sepanjang saya menjadi “konsultan MSDM”, bukanlah hal yang
mudah. Hanya kalangan minoritaslah yang memberikan kinerja terbaiknya menjadi
sebuah komitmen tinggi mendorong kemajuan pelayanan prima di SKPDnya. Dan tidak
serta merta mendapatkan apresiasi dari atasan,
kepala SKPD atau pemerintah pusat, bahkan dalam beberapa kasus justru
menjadi musuh yang harus disingkirkan.
Ada saja perilaku organisasi SKPD yang memanfaatkan
“keuntungan” pribadi untuk pembenaran tindakan yang kontra produktif, sehingga
tidak jarang semakin memperlemah sistem pelayanan internal yang sudah dibuat dalam Tupoksi uraian kerja atau yang lainnya.
Yang secara tidak langsung makin
memperparah efektifitas kinerja keuangan/anggaran SKPD bersangkutan. Disamping di Indonesia memang tidak ada pengawasan
secara langsung atau Audit Kinerja Lembaga
terhadap efektifitas keuangan /anggaran dengan
mutu kinerja yang berdampak langsung pada peningkatan pemenuhan, kebutuhan ,
keinginanan , solusi dan kepuasan masyarakat.
Namun apa yang dilakukan oleh Rumah Sakit Mata Jawa Timur di
kawasan Gayung Sari Surabaya tersebut melibatkan masyarakat sebagai “social control “ mutu kinerja pegawai ,
dengan menampilkan jargon dan ukuran kinerja yang harus dilakukan pegawai
secara terbuka, benar benar patut diajungi jempol . Sebuah terobosan
tentang peningkatan kapasitas budaya
mutu pelayanan publik yang dapat
meningkatkan rasa percaya diri, daya saing dan citra lembaga yang membanggakan
sekaligus dapat memberikan inspirasi bagi SKPD lain serta meningkatkan daya
saing lembaga .
Prinsip bahwa” hasil tidak akan mengingkari sebuah upaya
“ kalimat yang tepat untuk memberikan apresiasi Rumah Sakit Mata ini”, dengan
memberikan pelayanan terbaiknya, akan menghasilkan citra lembaga yang baik pula
setidaknya saya telah menuliskannya untuk anda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar