“Kank,
bagaimana sih bisa memiliki anak yang bisa
percaya diri saat berceramah seperti Indi itu...”, Disampaikan seorang ibu beberapa waktu lalu
kepada saya usai mengikuti siraman rohani dimana Indi didaulat menjadi dai’
cilik disebuah hotel.
Berbicara rasa percaya
diri anak sangat bergantung bagaimana cara orang tua memperlakukan anak
bersangkutan alias pola asuh seperti apa yang dikembangkan. Dikarenakan
perlakuan orang tua dan pola asuh yang dikembangkan menentukan bagaimana anak tersebut membentuk rasa
percaya dirinya. Rasa percaya diri anak adalah cara pandang anak terhadap
dirinya sendiri bahwa dia memiliki keyakinan terhadap diri sendiri dan segala
sesuatu yang bisa dilakukannya. Jika dikaitkan dengan kemampuan public speaking anak, maka ada beberapa catatan yang mesti
dilakukan seperti berikut ini:
1.
Ajak anak meyaksikan secara langsung praktek public speaking
Kemampuan
public speaking adalah kemampuan yang
bisa dipelajari, oleh karena itu pada usia anak anak perlu ditunjukan role model , tokoh panutan, orang
kesayangan dan idola anak yang terbiasa mengembangkan public speaking skill baik secara langsung maupun melalui video,
dengan demikian anak menyadari dan
memiliki persepsi bahwa public speaking bukan sesuatu yang sulit dan menakutkan
tetapi menyenangkan dan mudah dilakukan.
Dalam hal ini Indi sering meyaksikan saya secara langsung saat saya
didaulat menjadi lecturer dari
berbagai seminar maupun workshop, dikarenakan sengaja sering ajak baik sebagai
asisten atau teman bicara dalam
perjalanan menuju lokasi.
2. Setiap anak ingin menunjukkan “prestasi” dan
menyenangkan orang tuanya
Anak
anak lebih mudah dilatih jika suasana hatinya senang tidak ada tekanan tidak
ada kemarahan dan tidak ada paksaan, sepanjang saya bersama istri melatih
Indi untuk hafalan panjang dari materi
ceramahnya , alias kultum tapi lebih dari tujuh menit, kami beruapaya untuk
tidak membuat ini stress karea perasan tertekan , namun sebaliknya justru saya
buat hatinya riang, logika sederhananya jika hatinya riang lebih mudah menghafal.
Bukan
hanya Indi, saya sendiri yang berpengalaman bertahun tahun menjadi public speaker persiapan menuju
kompetisi atau penampilan berpidato sering membuat gelisah atau cemas bagi diri sendiri bahkan bisa frustrasi jika materi belum
dikuasai sementara deadline kian mendekat. Kita memang harus melindungi anak
anak dari rasa frustrasinya jika ingin
anak berhasil secara optimal.
Jika kedua hal tersebut
sudah bisa anda atasi maka langkah selanjutnya adalah melatih secara teknis
seperti , bagaimana menghafal , cara
berbicara, ekspresi maupun menguasai
audience. Semoga bermanfaat.
Berikut contoh praktisnya:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar